Kamis, 17 Maret 2016

Fatahillah Bukanlah Sunan Gunung Jati

Banyak teks sejarah di sekolah-sekolah yang menyebutkan bahwa Fatahillah adalah Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati. Namun sebenarnya Fatahillah dengan Sunan Gunung Jati adalah dua orang yang berbeda.

Nama asli Sunan Gunung jati adalah Syarif Hidayatullah putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah Musafir besar dari Gujarat, India yang memimpin putra-putra dan cucu-cucunya berdakwak ke Asia Tenggara, dengan Champa sebagai markas besar. Salah satu putra Syekh Jamaluddin Akbar adalah SyekhIbrahim Akbar (ayah Sunan Ampel). Sedangkan Fatahillah yang biasa disebut Fadhlulah Khan atau Fatlehah adalah seorang ulama dari Pasai Aceh yang hijrah ke Demak. Ia kemudian diangkat Raden Patah sebagai panglima pasukan Demak yang berangkat ke Sunda Kelapa bersama Cirebon menghadapi Portugis untuk mempertahankan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Jumat, 26 Februari 2016

Benda Bersejarah Peninggalan Hindu-Buddha

Kerajaan Hindu pertama di Indonesia adalah Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Setelah itu, muncullah puluhan kerajaan-kerajaan Hindu, Buddha, dan Islam di berbagai daerah di Indonesia. Banyak benda-benda peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut yang sampai saat ini masih dapat kita saksikan. Benda-benda peninggalan bersejarah tersebut sebagai bukti bagi kita bahwa nenek moyang menguasai teknologi yang tinggi. Mari kita pelajari sebagian dari benda-benda peninggalan bersejarah melalui kajian di bawah ini.
  1. Candi

    Candi umumnya terbuat dari batu maupun batu bata, sehingga mampu bertahan sampai saat ini. Candi erat kaitannya dengan keagamaan sehingga bersifat suci. Fungsi bangunan candi bagi umat Hindu adalah untuk memuliakan orang yang telah wafat khususnya raja-raja dan orang-orang terkemuka. Bagi umat Hindu di Indonesia, candi berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang atau dihubungkan dengan raja terdahulu.

Kamis, 04 Februari 2016

Teori Masuk dan Berkembangnya Hindu-Buddha di Indonesia

Agama dan kebudayaan Hindu-Buddha tidak hanya berkembang di India, melainkan telah menyebar dan berkembang pula di berbagai Negara, termasuk Indonesia. Kepulauan Indonesia membentang di sebelah timur India dan menjadi kelanjutan dari daratan Asia Tenggara. Seiring perkembangan teknologi pelayaran, wilayah Indonesia menjadi daerah persimpangan lalu lintas perdagangan zaman kuno, yaitu India dan Cina. Akibatnya, terjadilah hubungan antara Indonesia dengan India dan Cina.
Proses interaksi perdagangan di atas, tidak lantas menjawab pertanyaan tentang siapa yang membawa atau menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia. Bagaimana sesungguhnya proses yang terjadi belum dapat diungkap secara pasti. 

Dengan demikian, penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia memunculkan beberapa pendapat. Berikut ini beberapa pendapat teori mengenai masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia.

Senin, 01 Februari 2016

5 Juni 2015

Tanggal 5 Juni 2015, merupakan hari yang bersejarah dalam hidup saya. Hari itu merupakan hari ulang tahun ibu saya sekaligus pengumuman penerimaan peserta didik baru dari IC. Hari itu, saya dan beberapa teman dari sekolah saya yang ikut mendaftarkan diri di IC diminta untuk hadir di sekolah untuk membuka hasil pengumuman dari IC.

Pagi itu perasaan saya sudah buncah. Hari itu lebih mendebarkan dari pengumuman kelulusan UN sekalipun. Saya berangkat ke sekolah naik angkutan umum. Sebelum berangkat, ibu saya mengatakan bahwa ia ingin mendapatkan kado yang berbeda dari tahun sebelumnya, dan saya menyetujui permintaan ibu saya tersebut.

Sesampainya di sekolah, saya langsung menuju tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Disana telah berkumpul beberapa teman saya. Ketika itu, banyak guru yang menyanyakan tentang pengumuman tersebut. Namun, kami hanya bisa menjawab bahwa pengumuman tersebut belum keluar. Hari mulai siang, kami mulai lelah menunggu pengumuman tersebut. Beberapa kali kami telah mencoba untuk membuka website IC, namun yang tertulis tetap sama, yakni masih menunggu keputusan Kementrian Agama.

Karena kasihan melihat kami tidak melakukan apapun, akhirnya setelah dzuhur kami diperbolehkan untuk pulang. Bagi saya perjalanan pulang tersebut tidak menyenangkan. Sepanjang perjalanan saya terus melamun. Membayangkan apa nasib saya nanti apabila tidak diterima di IC. Dimana saya akan melanjutkan sekolah saya, sedangkan pendaftaran dari beberapa sekolah yang saya inginkan sudah tutup. Saya juga memikirkan bagaimana perasaan keluarga saya, teman-teman saya, dan guru-guru yang telah mendukung dan mendoakan saya. 

Karena terlalu banyak hal yang saya pikirkan, saya akhirnya jatuh sakit. Saya tidak langsung pulang ke rumah. Ibu saya mengajak saya untuk mampir di rumah saudara. Kami berada disana sampai sore, kami baru pulang ketika jam menunjukkan pukul 5 sore. Setelah merasa hari sudah mulai gelap, kami pun pulang. Kami sampai rumah tidak lama sebelum adzan berkumandang.

Sesampainya di rumah, saya langsung bersiap siap dan melaksanakan salat maghrib. Setelah itu saya jatuh tertidur. Pada sekitar jam sepuluh malam ibu saya membangunkan saya. Ibu saya tiba tiba memeluk saya kemudian mengatakan bahwa saya diterima di IC. Dengan keadaan setengah sadar dam kepala masih berat karena saya sakit, saya mengatakan kepada ibu saya bahwa diterimanya saya di IC merupakan kado dari saya untuk ulang tahun ibu saya dan sekaligus kado ulang tahun ayah saya di hari berikutnya. Dengan mata berkaca kaca, ibu saya kembali memeluk saya dan mengucapkan terimakasih.

Minggu, 31 Januari 2016

Zaman Batu

Zaman batu merupakan zaman paling tua dalam sejarah kehidupan manusia. Disebut zaman batu karena sebagian besar alat-alat kehidupannya terbuat dari batu. Alat-alat tersebut berfungsi sebagai alat untuk mencari dan mengolah makanan, serta sebagai sarana pemujaan. Zaman batu terbagi atas beberapa zaman, yaitu sebagai berikut.
  1. Zaman Batu Tua (Paleolitikum)
    Zaman batu tua adalah masa ketika alat-alat yang digunakan terbuat dari batu yang masih kasar pembuatannya, bahkan tidak mengalami perubahan yang terlalu banyak oleh tangan manusia. Alat-alat yang dibuat hampir tidak mengubah bentu aslinya, karena teknologi yang dikuasai masih sangat terbatas dan sederhana dan juga fungsinya masih sangat terbatas. Contohnya kapak pada zaman ini digunakan untuk membelah, menggali, berburu, menusuk, dan lain-lain.

Kamis, 28 Januari 2016

Pengertian Sejarah

Secara etimologis kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajaratun yang berarti pohon. Kata syajaratun kemudian digunakan dalam bahasa Melayu dengan penyebutannya berubah menjadi syajarah, dan bahasa Indonesia menyebutnya dengan sejarah. Kata sejarah tersebut masih memiliki arti yang sama yakni silsilah atau keturunan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan tentang sejarah sebagai berikut:
  1. Asal usul, keturunan, atau silsilah;
  2. Kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau, riwayat, tembo;
  3. Pengetahuan atau uraian tentang kejadian, atau peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa yang telah lampau. 

Rabu, 27 Januari 2016

Indahnya Kasih Sayang

Kenapa air terjun itu begitu indah, kawan?
Karena airnya jatuh terus menerus
Terus menerus, susul menyusul, berdebam
Sungguh tiada indahnya kalau hanya selintas
Itu sama seperti menuangkan air dari ember


Kenapa pelangi itu begitu indah, teman?
Karena merah kuning hijau dilangit yang biru itu menggantung
Pada posisinya, tetap, mantap,
Sungguh tiada indahnya kalau bergerak-gerak
Berganti-ganti posisinya, susah diikuti